Speaking one of human being's biggest issue, MONEY.
Pernah liat orang yang kerjanya cuma maen-maen, leha-leha, tapi duit ngalir terus ampe banjir?
Pernah liat orang yang tiap hari kerja banting tulang, tapi uangnya ga ada yang kesimpen?
Pernah liat orang yang kerja dari nol, akhirnya sukses berat, ampe harta 7 turunan ga abis?
Pernah liat orang yang udah kaya raya, akhirnya abis-abisan n bangkrut?
Saya pernah liat, dan bahkan berada dalam salah satu kategorinya.
Sewaktu kecil saya seneng menabung. Rasanya seneng aja ngeliat angka di buku tabungan makin besar, dan berencana juga buat nanti kalau sudah besar mau dipakai buat ini-itu. Bersyukur punya sekolah yang nyediain bank juga di dalamnya, jadi gampang banget kalau mau nabung. Dari tahun-tahun awal SD, saya sudah belajar jadi nasabah bank lho, meskipun tentu saja masih yang junior. Beberapa hari sekali saya pasti menyisihkan uang jajan untuk ditabung, ga muluk-muluk, cuma Rp. 5000,- saja. Lucu juga kalau ingat dulu pegawai bank-nya yang ramah dan sabar ngeladenin saya yang masih cupu banget dan ga malu-malu meskipun cuma nabung sedikit. Paling seneng tiap kali sehabis Tahun Baru Imlek, pasti saldo langsung meningkat drastis.
Tahun lepas tahun, melihat prestasi menabung saya dan kakak saya yang lumayan, Ayah saya berniat menambahkan suntikan dana supaya bisa didepositokan saja. Saya tentu sangat setuju dan senang, toh saya belum perlu uangnya sekarang. Jadilah, tabungan kami di-depositokan dan disimpan oleh Ayah saya. Karena seluruh tabungannya ditarik, saya tidak lagi menabung rutin seperti sebelumnya. Dari nasabah bank saya berpindah ke celengan, yang harus diakui, sangat tergoda untuk akhirnya menggunakan uang tabungan tersebut.
Yak, nostalgianya berhenti sampai di situ. Karena beberapa tahun setelahnya, saya mengetahui kalau deposito itu sudah tidak ada lagi.
Guess where it went and by whom? ^^ Hihi... Nevermind. It's forgiven.
Sepenggal kisah saya di atas sedikit banyak telah membentuk pola pikir saya tentang sebuah benda magis yang namanya uang. Uang, yang sekarang ini lebih dikenal dalam bentuk digit dalam dunia maya (Sudah jarang kan melihat orang bertransaksi pakai uang gepok-gepokan? Pasti transfer, pakai kartu kredit/debit, e-banking, dll), memang punya kemampuan super untuk merubah manusia. Uang untuk hidup? atau Hidup untuk uang?
Isu ini mungkin saja berasal dari sifat konsumeris manusia, ingin hidup enak, makan enak, pakaian bagus, rumah layak (baca : mewah), belum lagi kebutuhan sekunder dan tersier yang ga ada habisnya.
Membuat saya berpikir, coba kalau manusia ga banyak maunya dan bisa terus bersyukur, uang yang ada di tangannya pasti akan selalu terasa cukup.
Memang terkesan klise, tapi kenyataan memang seperti itu. Kalau kita terus menerus dikendalikan, dihantui, dan dikejar-kejar oleh Sang Uang, kita justru malah ga bisa menikmati fungsi sebenarnya dari uang itu sendiri. Orang mau cari uang untuk makan/kebahagiaan/keluarga, koq malah sampai kesehatan/keluarga sendiri yang dikorbankan?
Merasa kekurangan uang? Sudah pasti stress. Merasa kebanyakan uang? Jangan salah, malah jadi ga tenang!
Kalau ada yang bilang, jodoh itu ga akan kemana-mana, sama halnya dengan uang. Uang dan jodoh selalu bisa didapat, asal kita mau berusaha. Tapi yang dipertanyakan, apakah kamu sudah merasa cukup dan bersyukur atas apa yang kamu punya?
Kalau belum, yah, selamat kejar-kejaran sama uang. =)
Oh ya, salah satu film garapan orang Singapura yang menginspirasi saya tentang uang adalah Money No Enough II, sempat saya bahas dalam posting blog saya tahun lalu..
http://elizabethagustinaraharjo.blogspot.com/2008/12/money-not-enough-ii.html
This film is recommended for all of you. Enjoy!
~just a thought, coz God provides, Jehova Jireh~
always be an Elizabeth.Agustina.Raharjo to listen.
how long to season chicken
3 years ago

1 comments:
money money money..sama kaya cinta cinta cinta..rebek n bikin pusing..hihi..syukurilah apa yg udah kita dapatkan aja ya muu..semua pasti udah rencana Tuhan :)
Post a Comment