Aug 18, 2009

Seorang WNI

Saya lahir di Jakarta, ibukota Indonesia, hampir 21 tahun yang lalu.
Kedua orangtua sayapun lahir di Indonesia.
Sejak lahir sampai detik ini, keluarga saya saling berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Gaun favorit saya, kebaya.
Makanan favorit saya, masakan Indonesia.
Pelajaran favorit saya, bahasa Indonesia.
Udara yang saya hirup setiap hari, meskipun berpolusi, udara Indonesia.
Air yang saya minum dan pakai setiap hari, berasal dari tanah Indonesia.
Akta lahir, kartu identitas, menyatakan saya orang Indonesia.
Saya menuntut ilmu di Indonesia.

Jika ditanya, "Where do you come from?" oleh orang asing, saya jawab dengan bangga, "Indonesia."

Sedihnya, bagi sebagian orang Indonesia, saya bukan orang Indonesia, saya Cina.
Dan lucunya, bagi orang Cina, saya bukan orang Cina, wo shi yinnihuaren.

Sedih.
Padahal saya tetap membayar pajak.
Padahal saya punya surat Warga Negara Indonesia.
Padahal saya menolak saat ditawari menembak Surat Ijin Mengemudi.
Padahal saya tidak pernah melakukan tindakan melanggar hukum.
Padahal saya merasa,Indonesia-lah tempat saya bernaung.
Padahal saya tidak pernah melihat kami berbeda.
Padahal saya terus berdoa bagi pembangunan Indonesia.
Padahal saya cinta Indonesia.

Bolehkah kami yang rata-rata berciri khas kulit putih kekuningan, mata sipit, hidung cenderung pesek ini disebut sebagai Warga Negara Indonesia, tanpa embel-embel "keturunan Tionghoa"?
Melihat kami sebagai saudara, bukan penjajah?

Jika tidak, ya kami memang berbeda, namun bukankah itu yang membuat bangsa Indonesia begitu berwarna?


Jika boleh, maka terima kasih, untuk kemerdekaan yang telah kau berikan bagi kami, sesama Warga Negara Indonesia.

Selamat Hari Kemerdekaan bangsaku.
Doaku dan Tuhan senantiasa menyertai bangsa Indonesia.

Dengan penuh ucapan syukur atas negeri ini,

E. A. R.

0 comments: